Langsung ke konten utama

Fahruddin Nasrulloh dan Sebuah Kenangan

Beberapa hari kemarin, saya berbincang renyah dengan mas Salman, seorang penyair, penulis novel, aktor pementasan lulusan S1 dan S2 dari ISI Jogjakarta. Kami berdua duduk di halte bus kampus NUS (National University of Singapore), menunggu bus yang akan menjemput kami pulang ke apartemen. Mendengar beliau bercerita tentang pengalamannya malang melintang di Jogja, aku tertarik bertanya tentang seseorang.

           "Mas Salman kenal dengan mas Fahruddin?, Fahruddin Nasrulloh dari Jombang" tanya saya. "Dia dulu sudah malang melintang di Jogja lho mas" sambung saya.
           "Oh, tau saya. Dia yang dari IAIN kan?" jawab mas Salman dengan pandang menerawang. "Iya, saya tau dulu di Jogja bareng-bareng" imbuh beliau sambil mengangguk-angguk.
           "Beliau mentorku dulu di Jombang, Mas" kataku. "Tapi aku dengar, beliau lagi sakit, sempat muntah darah kemarin"
           "Oh, moga-moga cepat sembuh", balas mas Salman dengan prihatin.
           "Semoga, Amieen." sambutku pasti.

Itu percakapan terakhirku yang menyangkut beliau, orang yang kuanggap mentor menulis dan berdiskusi ria di Jombang. Mas Fahruddin Nasrulloh, penyair, penulis, aktor dan yang baru-baru ini kudengar, guru bahasa Indonesia di Jombang. Akan tetapi, dunia ini tidaklah tempat yang harus disinggahinya lama. Selepas magrib tadi, aku membaca status FB mengejutkan dari senior PMII Jombang yang mengabarkan kepergian beliau dari alam fana ini. Mas Fahruddin, telah meninggal sore hari tadi di Surabaya. Sesuai info, akan dimakamkan besok di tanah kelahirannya, Mojokuripan, Jombang.

Sudah seharusnya, kita bersedih hati dan kehilangan sebab ditinggalkan teman, sahabat, mentor dan guru yang masih muda ini. Meskipun secara pribadi, aku belumlah lama mengenalnya. Perkenalanku dengan beliau di tahun 2009 akhir mengguratkan kesan, bahwa beliau orang yang istimewa. Istimewa, karena terlihat gairah dan kesungguhan beliau untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan kami, para mahasiswa yang kepengen banget belajar menulis dan berdiskusi. Beliau tidak pelit berbagi ilmu dan jaringan. Beliau mau dan senang hati meminjami kami koleksi CD/DVD/VCD film-film berkualitasnya tanpa bayar sewa. Juga buku-buku yang berserakan dirumahnya, dipersilahkan buat kami bawa, asal dikembalikan tepat waktu semua.

Beliau juga istimewa dalam tulus mendukung dan mau direpoti oleh lembaga kami, Fikrah Institute yang baru berdiri saat itu . Aku masih ingat, ketika kami memintanya menjadi fasilitator dan pemateri tunggal dalam acara Bengkel Menulis yang kami adakan di Wonosalam. Tanpa bayaran dan tanpa transportasi, alias Gratis! Padahal acara itu kami langsungkan seharian. Bahkan beliau, dengan mas Jabbar (tokoh muda seniman Mojokerto) mau urun bersama, bantingan bersama untuk beli makan dan jajanan ala kadarnya.

Beliau juga akan dengan senang hati menunjukkan siapa saja orang yang bisa kami undang untuk diskusi bulanan kami. Maka, dengan jaringan beliaulah, kami bisa mengundang Pak Robin, Kiai Hamim Mojokerto, Cak Nas, dan sederet orang yang banyak bergelut di dunia seni dan tulisan di seputar Jombang dan Mojokerto. Dan beliau pasti akan selalu berusaha hadir dan mengikuti diskusi kami itu selagi tidak ada halangan.

Selain itu, kami juga selalu diundang di rutinan kajian yang beliau adakan dengan tajuk, Geladak Sastra. Sesuai dengan namanya, kajian ini fokus pada upaya pembedahan karya sastra yang sudah jadi buku, entah berupa novel, kumpulan cerpen, maupun antologi puisi.  Diskusi ini sangat menyenangkan, karena langsung adanya penulis buku yang datang. Kami bisa mengetahui langsung apa yang jadi idealitas dalam karya dari sang penulisnya langsung. Ada mas Nurel Javissyarqi, mas Jabbar Abdullah, mas yang dari Mandar, dan sebagainya. Ada pengalaman baru, diskusi yang hidup dan perkawanan tulus ikhlas yang beliau ajarkan dan berikan pada kami.

Kini, sudah 4 tahun lebih aku mengenal beliau, meskipun lama juga tidak bertemu muka. Terakhir kali aku menyambanginya di Mojokuripan, ternyata beliau sudah pindah ke Surabaya, kerumah istrinya. Tapi tidak mengapa, perjumpaan yang singkat ini sudah mengguratkan kenangan dan kesan yang mendalam buat kami di Fikrah Institute dan PMII Jombang. Mas Fahruddin yang sederhana, yang kukenal dengan buku Syaik Branjang Abang, masih juga mau menemani kami yang muda-muda dalam berproses dan belajar membuat karya. Mas Fahruddin yang tidak pernah malu berkawan dan mendidik kami, meskipun kami tahu beliau sudah terkenal dan malang melintang di Jogja sana.

Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna. Tapi setidaknya, ini sebuah usaha kecil untuk membuat sebuah pengakuan, betapa istimewanya beliau bagi kami, sejak dulu hingga sekarang. Semoga arwah beliau senantiasa dalam rengkuhan kasih sayang Allah Swt. Amien. Aku bersaksi, "engkau orang baik yang telah dikenalkan Tuhan pada kami semuaMas."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NU sebagai Identitas kultural : Sebuah perspektif pribadi*

Oleh : Azzam Anwar* 31 Januari 2012 nanti, NU akan genap berumur 86 tahun. Sebuah penggalan waktu yang amat sangat lama. Berbagai lintasan sejarah entah itu kelam ataupun terang telah membuat NU semakin kokoh eksistensi dan semangatnya. Tidak dipungkiri, NU telah sedemikian lama mewarnai perjalanan sejarah ini, dari setiap masa ke masa, menjadi fenomena yang nyata hadir dan memberi kontribusi entah negatif entah positif bagi kita semua. Sebagai sebuah fenomena, NU tentu saja amat sangat luas untuk sekedar diteropong dengan tulisan singkat ini, tapi itu semua niscaya untuk dilakukan. Tulisan ini adalah refleksi pribadi seorang anak muda yang berusaha memahami eksistensi dirinya dengan menjadikan NU sebagai cermin besar pusat refleksi itu sendiri. Sebagai sebuah refleksi, tentu saja ia harus dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan jujur dan apa adanya yang muncul dari skema konstruk dan pengalaman pribadi penulis selama bergulat dengan dunia ke-NU-an. NU sebagai sebuah pengalaman pribad...

Sidrot

Ronta Hati Kosong mengudara Tembus sekat waktu Cahaya merembesi ruang Dan sepi meraja bumi Tak terkira sudah ronta hati Menusuk janji terucap Mungkin sudah jalannya Jikalau isyarat tlah mampu Menutupi leluka Biar Waktu sembuhkan ia Mimpi belumlah purna Mirip awan berarak Merindu senja langit Agar mau mengantarnya Ke peraduan malam Hujan merinai Membuka bendungan awan Tetesnya menjadi awal Untuk keajaiban yang kan datang Tak perlu risau Biarkan warna langit Selalu biru Sebab matahari Senantiasa hadir Menyanjung musim semi Kidung Filsuf Socrates mengajar gelisah Plato menggubah ide Aristotel membelah materi Averroes menobatkan wali Ghazali menghidukan ilmu Nawawi menyebar fikih Ini aku Beku sendiri Lantunkan kidungku Yang tak tentu Juga jemu tak mampu Mendengar mereka Mengikuti mereka Mendukung mereka Sidrot Muhammad membelah langit Melihat masa depan Dengan mata batin Memilih kebaikan Memohonkan keringanan Burak mengantar Jibril m...

Kegagalan itu Menyedihkan

Orang bilang, “Kegagalan adalah kemenangan yang tertunda”. Itu benar. Akan tetapi, hari-hari ini aku lebih suka mengatakan, “Kegagalan itu benar-benar menyedihkan”. Ngaji  ba’da subuh tadi, aku memutuskan untuk memberi tahu mereka langsung. Bahwa mungkin dalam waktu yang tidak lama, aku tidak akan menjadi guru kelas mereka lagi. Aku akan mundur dari tugas mengajarku di pondok ini. Membiarkan mereka mendapat guru yang lebih cocok buat mereka. Guru yang bisa membuat mereka lebih mudah paham dalam mencerna pelajaran. Guru yang bisa menginspirasi mereka untuk selalu bersemangat menantang kerasnya masa depan. Kata mundur itu terucap, sejak akhir-akhir ini aku menyadari, para santri di kelasku nampak kepayahan dalam mengikuti pelajaran. Nampaknya mereka sulit sekali untuk mencerna dan memahami pelajaran yang aku ajar selama ini. Nampaknya, semangat dan gairah mereka untuk belajar, menghafal dan mengulangi pelajaran di kamar mereka masing-masing masih kurang tinggi. Indikasinya, ...