Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Identity

Motivasi: Alert!

www.pulsk.com Aku baru menyadari, tipeku adalah pengajar yang suka memotivasi mereka yang diajar. Setiap pagi saat menemani para santri belajar bahasa inggris, aku tidak pernah lupa untuk menyemangati. Aku membantu mendorong dan memberikan pandangan yang sekiranya membuat mereka bersemangat untuk mempelajari bahasa Inggris. Dengan begitu, mereka akan bisa sukses dalam belajar, menurutku pastinya. Terlepas dari kelebihannya, peran seperti ini menurutku menyimpan beberapa masalah yang mesti diwaspadai. Pertama, motivasi adalah soal ujaran, sementara yang paling penting dalam hidup adalah tindakan. Motivasi tanpa tindakan adalah omong kosong. Nihil. Sementara, hidup tanpa tindakan yang baik dan berguna adalah bencana. Kita, sebagai manusia, cenderung sering tidak waspada dan lambat untuk belajar dari pengalaman di masa lampau. Contohnya, kita menyadari betapa pencemaran alam adalah hasil dari perbuatan kita yang ceroboh dan serakah men...

Malaysia, the second

Mendarat di KLIA (Kuala Lumpur International Airport), segera saja mata kami semua disambut dengan jejeran pesawat Malaysia Airlines (MAS) dan Airasia, dua pesawat kebanggaan orang Malaysia. Sebelumnya, ketika bersiap-siap mendarat, hanya sawit dan sawit yang menjadi pandangan kami. Memang, Malaysia sedang bergiat memacu penanaman sawit, agar bisa menyaingi Indonesia, sang pemimpin nomer satu produksi sawit sedunia. Menjejakkan kaki di KLIA ini, adalah kesempatan keduaku menjejak negeri jiran ini. Mei atau Juni kemarin, aku sudah sempat masuk ke negara ini, meski hanya di Johor Bahru, negara bagian yang berbatasan langsung dengan Singapura. Artinya, Pasporku pun sudah dua kali di stempel oleh negara serumpun kita ini, hehe. Seperti sudah pernah kutulis, bandara internasional adalah wajah pertama yang akan menyambut anda di suatu negara. Ia bisa jadi cerminan baik dan buruknya pelayanan di sebuah negara. Pada kondisi ini, Indonesia mesti mengakui kualitas pelayanan yang lebih b...

Kegagalan itu Menyedihkan

Orang bilang, “Kegagalan adalah kemenangan yang tertunda”. Itu benar. Akan tetapi, hari-hari ini aku lebih suka mengatakan, “Kegagalan itu benar-benar menyedihkan”. Ngaji  ba’da subuh tadi, aku memutuskan untuk memberi tahu mereka langsung. Bahwa mungkin dalam waktu yang tidak lama, aku tidak akan menjadi guru kelas mereka lagi. Aku akan mundur dari tugas mengajarku di pondok ini. Membiarkan mereka mendapat guru yang lebih cocok buat mereka. Guru yang bisa membuat mereka lebih mudah paham dalam mencerna pelajaran. Guru yang bisa menginspirasi mereka untuk selalu bersemangat menantang kerasnya masa depan. Kata mundur itu terucap, sejak akhir-akhir ini aku menyadari, para santri di kelasku nampak kepayahan dalam mengikuti pelajaran. Nampaknya mereka sulit sekali untuk mencerna dan memahami pelajaran yang aku ajar selama ini. Nampaknya, semangat dan gairah mereka untuk belajar, menghafal dan mengulangi pelajaran di kamar mereka masing-masing masih kurang tinggi. Indikasinya, ...

Berotak Tekad, Berhati Malaikat; a Tribute to Undar Jombang

18 September 1965, tanggal kelahiran Undar Jombang. Sudah begitu tua, setua Gus Mujib, Neng Eyik dan Gus Lukman yang sampai sekarang masih menjadi penguasa-penguasa Undar, asyik mengangkangi “tahta kecil” mereka. Tapi Undar memang istimewa, biarpun dihantam krisis kepemimpinan sejak lama, sampai sekarang masih saja berdiri kukuh. Menantang langit, mengukir jaman. Undar selalu ada, tapi sedihnya, mungkin ia juga pelan-pelan menjadi tiada. Timbul tenggelam, mencari pegangan kesana kemari tanpa pertolongan siapapun. Bukan karena tidak ada yang menolong, tapi karena Undar sendiri yang menolaknya. Di stasiun Purwokerto, jam 6 pagi pada akhir Juli 2004, aku bersama seorang sahabat karib menaiki kereta Logawa jurusan Purwokerto – Surabaya. Tiket seharga 21 ribu selalu kupegang erat-erat. Ini perjalananku pertama kali yang jauh dari Cilacap, kota kelahiranku. Hari itu, aku dan temanku berangkat ke Jombang, untuk nyantri dan kuliah di Universitas Darul Ulum Jombang. Sejak melihat brosur ka...

Ode untuk CRCS 2011

“Zam, alhamdulilah ditanda-tangani sama Pak Lono.. tinggal Bu Fatimah.. besok ke kampus yah, aku dah janjian sama Sam dan Maurisa di kampus besok… terima kasih bantuannya sobat… semoga tesis pean cepat di-acc. Amien.” (Message by Iwan Setiawan, received on September 17, 2013. 18:20:09) Sambil mengetik ini, aku membayangkan dewi kebahagiaan yang sedang ramah kepada sahabat, mentor sekalian salah guru kehidupanku, Bang Iwan Setiawan. Sore ini, beliau sukses mendapat tanda tangan penguji tesisnya, Pak Lono Simatupang, dan besok bersiap-siap menemui pembimbing lainnya. Aku yakin, sama  haqqul yaqin -nya dengan beliau, bahwa besok beliau mudah akan mendapat tanda tangan tersebut. Itu artinya, perjuangan berat untuk kuliah di Pascasarjana CRCS UGM selama dua tahun pun pelan namun pasti akan menemui titik akhirnya, wisuda. Mas Iwan mengikuti jejak Pak Afdilla, Bu Nyai Maurisa, Kang Anam, Mas Wiwit, dan Jeng Palupi, menjadi angkatan 2011 yang tepat waktu menyelesaikan S2-nya selama ...

Remaja dan Romantisme Masa Lalu

Memperingati hari Remaja Internasional, rabu kemarin (4/9) ada aksi damai belasan remaja yang tergabung dalam Jaringan SIAR (Simpul Indonesia untuk Advokasi Remaja) di titik nol kilometre Malioboro. Selain menyuarakan pentingnya peran Negara untuk melindungi hak-hak para remaja, satu isu penting yang menjadi konsern mereka masih terkait dengan maraknya wacana untuk menguji keperawanan para siswi setingkat SMA di sumatera sana. Dari titik pandang yang mereka sampaikan, mereka merasa bahwa para remaja masih menjadi korban dari stigma dan diskriminasi yang dilakukan oleh lingkungan sekitar, termasuk dalam isu keperawanan. Mereka merasa, bahwa ide untuk menguji keperawanan itu bukan dari niat untuk menekan laju seks bebas di kalangan remaja, tetapi karena masyarakat masih menganggap remaja sebagai sumber dari kerusakan moral. Dengan kata lain, remaja sudah sering kita tuduh sebagai titik mula kebobrokan moral yang memprihatinkan seperti seks bebas, tawuran antar sekolah, ge...

Ziarah dan Bahasa

Malam sabtu kemarin, pondok kecil kami kedatangan Prof. George Quinn, ahli sastra Jawa dari Australia National University (ANU). Kedatangan beliau, selain untuk diskusi juga beliau punya niat untuk ziarah ke makam Mbah Nuriman, leluhur dan ulama Mlangi yang masih keturunan keraton Jogjakarta. Kesan pertama bertemu, meski sudah berumur 70 tahun lebih, beliau masih saja segar dan bugar. Rahasianya, beliau bilang ada pada latihan rutin Tai Chi setiap pagi selama sekitar 1 jam dan rutinan jalan kaki bersama istrinya. "Rasanya, seperti mendapat asupan tonikum setiap hari", begitu kata Pak George tentang manfaat Tai Chi-nya. Diskusi sederhana pada malam kemarin itu berkisar pada ketertarikan Pak George tentang fenomena ziarah di Indonesia, utamanya di Jawa, Bali dan Makassar. Peningkatan jumlah peziarah yang massif setiap tahun membuat beliau tertarik lebih jauh untuk mendalami apa yang mungkin bisa dipelajari lebih mendalam. Demi meneliti itu, beliau sudah mengunjun...

Kuah Kari India

Makan siang di teras kantin, sendirian sambil memandangi hujan lebat itu sungguh mengasyikkan. Kuputar pandangan ke segala penjuru, semua orang memilih makan didalam kantin. Aku menyukai suasana hujan, dan aku menyukai kesendirian. Oia, ini kantin yang biasa kami sebut, Kantin ARI (Asia Research Institute), karena letaknya yang dekat dengan gedung ARI di Bukit Timah Campus, NUS. Kalau anda suatu hari nanti kesini, menjadi visiting scholar (amieen..) atau turis, jangan lupa mampir kesini. Bukan karena makanannya yang istimewa, tapi karena disini anda bisa melihat banyak professor dan peneliti yang sliweran, membawa nampan makan mereka. Apalagi kalau sampai berani mengajak ngobrol dan diskusi, itu lebih hebat lagi. Minimal, anda bisa dapat kartu namanya. Setelah beberapa minggu ini stress dikejar waktu untuk menyelesaikan draft paper, rasanya nyaman sekali makan siang sekarang. Baru saja kuserahkan draft-nya ke Dr. Kay, pembimbing academic writing kami. Ditemani jus m...

Tentang Cinta

Love hurts whether it is right or wrong... (AL) Mungkin, tidak ada yang tahu apa yang ada dalam pikiran Avril Lavigne, penyanyi Kanada yang kesohor itu, ketika dia menulis bait ini. Tapi, banyak orang mengakui, Avril memang tipikal penyanyi yang semau gue, dalam artian positif. Avril dulu adalah antitesis untuk mbak Britney Spears yang gemerlap, mesti unyu, genit dan dalam tanda kutip, sempurna. Avril memberi contoh berbeda, engaku tidak harus sempurna untuk menjadi seseorang. Jadilah dirimu sendiri, jadilah seseorang yang apa adanya tapi juga jujur dalam berkarya. Saya percaya Avril sudah menuliskan kejujuran disitu, di lirik-liriknya. Seyogyanya, begitu juga cara kita membahas cinta. Selama ini, sering harus diakui kalau kita kurang jujur ketika membahas cinta. Sering kita sekadar membahas cinta pada dua sudut yang diametral. Satu sisi mengidealkan cinta dengan kebahagiaan belaka. Cinta adalah kesempurnaan kebahagiaan yang tiada putus-putus. Cinta menjadi sumber inspiras...

Hybrid Cyborg

Dari jendela bertirai krem, nampak jajaran apartemen mahasiswa blok 20-23. Aku sendiri tinggal di Blok 24, lantai 2. Sudah sebulan ternyata, aku menghuni kamar ini. Jejeran blok didepan, itu yang menjadi santap pandang sehari-hari. Disertai tingkah polah para penghuninya, dari lapangan basket, kantin, taman, shared room, dan tempat barbeque-an. Hidup sudah mulai terasa normal, meskipun kadang-kadang masih tetap kesulitan mengatur jadwal hidup. Setelah 2 minggu terakhir, workshop kami tentang pembuatan abstrak sudah selesai. Hasilnya sudah dikirim ke Jonathan, pegawai dan koordinator pengumpulan naskah di ARI. Workshop ini masih belum terlalu melelahkan, karena dulu kami sudah diminta mengirimkan sebelum berangkat ke singapura. Tinggal bimbingan dan koreksi dari Dr. Kay Mohlmann, pembimbing  academic writing  kami yang super baik, super sabar dan super bersahabat. Kami beruntung bisa dibimbing beliau, karena kata beliau sendiri, inilah tahun terakhir beliau tinggal di Sing...

Balada Shalat

Hidup di Indonesia yang mayoritas Islam, memang menyenangkan untuk muslim sepertiku. Anda tidak perlu pergi jauh naik kereta api atau bis hanya untuk bisa jum'atan. Anda juga tidak perlu susah-susah untuk bangun sholat subuh, karena sekian speaker masjid akan membangunkan anda. Tapi tidak di Singapura, kawan. Masjid, mushola, apalagi suara azan berkumandang itu hampir tidak ada. Belum lagi perbedaan waktu yang padahal cuma berjarak 1 jam lebih cepat. Inilah cerita tentang sebuah penyesuaian budaya. Prinsip tentang ruang waktu yang benar-benar menentukan bagi hidup manusia untuk survive. :) Waktu shalat disini lebih lambat sekitar sejam atau 2 jam dari waktu biasa di Indonesia bagian barat. Di Jogja, Jakarta, Jombang atau Cilacap, waktu shalat magrib kurang lebih pukul pukul jam 6, disini pukul 7. Subuh pukul 5, jadinya pukul 6 disini baru shalat. Semua dapat tambahan waktu sejam pokoknya. Yang sampai sekarang masih kurasa aneh, Jam 6 sore disini masih terang benderang. Asing sekali...

Nyonya Indon

Apa reaksi anda ketika mendengar orang Malaysia atau Singapura menyebut Indonesia dengan kata "Indon"? Marah, jengkel dan tidak suka? atau biasa-biasa saja? Aku lebih memilih reaksi kedua. Bukan karena nasionalisme yang kurang, tapi karena pertemuanku dengan ibu masinis MRT ini, jum'at kemarin. Secara kebetulan, kami bertiga ketemu ini di MRT. Ibu ini bekerja sebagai masinis di MRT jurusan Harbour Front. Berpakain seragam SMRT (Singapore Mass Rapid Transportation) yang merah hitam, ibu ini nampak melayu karena kerudung yang dikenakannya, dan terutama sekali, logatnya yang khas. Ibu ini sudah mafhum bahwa kami bertiga berasal dari Indonesia. Aku yang penasaran, bertanya darimana asal beliau. Jawabnya bisa ditebak, beliau melayu keturunan Indonesia yang tinggal lama di Singapura. Asalnya dari Kepulaun Riau. Bahkan dia bilang, akhir minggu ini seharusnya dia pulang ke Riau, tapi gagal disebabkan anaknya yang juga jadi masinis MRT tidak bisa mengantar kesana. Sang anak me...

Masjid Syiah dan India Tamil

Dari Merlion, si patung singa bertubuh ikan, kami berempat kembali ke Funnan Mall, nganter si Adrian untuk mencari aksesori Macbook-nya. Sebelum kesitu, kami bertiga (kecuali bang bodrek) memutuskan ke Masjid terdekat untuk shalat Asar dan magrib sekaligus. Melewati Funnan Mall, kami berbelok kanan melewati Park Hotel dan bertanya pada satpam hotel. Dengan ramah, kami ditunjukkan arah masjid yang ternyata ada diseberang belakang hotel Park. Jam menunjukkan pukul 7.05, sementara Magribnya akan mulai jam 7.10 sore. Bergegas kami ambil wudlu dan jamaah diimami mas Salman. Begitu selesai, muncul bapak-bapak berpakaian putih ala Pakistan, berjenggot panjang dan berpeci haji. 2, 3 sampai 6 orang datang. Adzan dilantunkan, dan saat itu kami menyadari, adzan-nya ternyata berbeda dengan yang biasa kami dengar di Indonesia atau di Makkah Madinah sekalipun. Pasca adzan, langsung iqomah. Kami bertiga bergegas masuk, ngikut jamaah. Ternyata, mereka memang benar-benar berbeda cara shalat dengan ...