Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

September

September Kulipat mimpi Kukantongi mantra Lihat, tak ada lagi duka Lihat, rindu kita melanglang buana Ini September Saat kita segera berangkat Memula masa singkat, meski Menyimpan geletar gelap Dan sendu tasbih para malaikat Melukis gemerlap esok Merajut dunia Melibas prahara Tak usah bersedih Sedang kesedihan pun mulai bosan Jadi teman kecil kita Mari sulut semangat Biar berkilat semua karat Dan benderang semua pekat Untuk Bunga Kutulis puisi untukmu Agar terketuk segala pintu Dan terbuka segala rahasia Kita benar-benar berbeda Meski Waktu selalu saja cemburu Dengan diam yang kita bicarakan Dengan cerita yang kita bisukan Untuk Bunga Engkaulah penanda baru Pada setiap jejak yang kubuat Untuk memintal ruang waktu Meski jauh menjadi karib Meski koma menjelma titik Demi Waktu Demi Waktu Manusia selalu berada dalam kerugian Demi Waktu Manusia tempat segala kesalahan Demi Waktu Manusia-lah kekasi...

RAMADHAN

Hidup Kutulis hidup Agar lupa tak sempat mampir Biar pahit mesti dikecap Biar panas mesti terendap Kujahit hidup Agar lelah tak sudi hadir Walau darah membanjir Walau airmata mengalir Kuhidupi hidup Agar cerah semua warna Meski gundah melekat Meski duka merapat Ramadhan Berkah Jika tarawih telah memanggilmu Jika al qur'an ingin tadarusmu Jika magrib menjadi kebahagiaanmu Inilah aku, Ramadhanmu Iniah aku, berkahmu

AGSF 2013

AGSF 2013 1 Hari ini, pesta kita telah usai Karpet perpisahan sudah kita gelar lebar-lebar Sejenak, kunikmati senyum tawa kalian Sejenak, kuhayati canda duka kita Hari-hari kemarin, adalah cahaya Hari-hari depan adalah rencana Janjiku untukmu, kawan Kita akan kembali bersua Menjadi bintang yang mengangkasa Di langit peradaban ilmu AGSF 2013 2 16 Mei menjadi awal mula Menjalani laku hidup bersama-sama Dari semenanjung Korea ke Dataran India Dari Chulalongkorn menuju Jogjakarta Dari Jepang sampai Cambodia Kita menghitung hari Dengan latihan, buku dan tulisan Dengan gerutuan supir bus BTC Dan pandang curiga petugas keamanan MRT Dipandu dua malaikat Bermata biru dan cantik luar dalam keduanya Kebosanan juga sesekali menyapa, maka Johor Bahru, Langkawi, Indonesia dan Thailand menjadi jelajah kita Atau seantero Museum, cafe dan taman-taman publik Dan Masjid, Gereja, Kuil serta Pagoda Merenungi kedirian kita 31 Juli adalah akhir dari semua Meski perpisahan...

SAMPANG

Sampang I Perih rasanya Mendengarmu bergolak, tiada sunyi Pedih rasanya Melihatmu terkapar, tiada bunyi Remuk rasanya Merasakan dukamu, tiada henti Sekali lagi, atas nama Tuhan Kalian usir tetangga Tak puas kalian bakar rumahnya Tak puas kalian bunuh sekian nyawa Tak puas kalian asingkan mereka dari tanahnya sendiri Sekali lagi, atas nama Tuhan Istighosahmu meminta Doamu menggelegar kemana-mana Sekedar menjaga citra Ataukah ujung putus rasa Palsu, kalian sungguh palsu Atas nama Tuhan, untuk dirimu sendiri Atas nama Tuhan, untuk nafusumu sendiri Nun jauh disana, Muhammad menangis lara Sabdanya tak lagi menggema Sabdanya tak lagi mewarna “Bukanlah mukmin, Jika lidahnya Membuat resah tetangganya” Kalian tak membuatnya resah Kalian malah membuatnya musnah Sampang II Sekelompok manusia Mengayuh pedal sepeda Mencari simpati Demi harap yang kian sirna “Kami Syi’ah Tanpa Rumah” Pekik mereka Di sekujur langit Malaikat menatapi mereka Haru menjadi b...

Wasiat

Wasiat Pandang hatimu Biar terang semua warna kata dan Gelap pekat nuansa maya Tak kita duga Air kan berpendar biru Rengkuh lembayung langit Semata rindu, katanya Semata restu, teriaknya Semata beku, jeritnya Pandang lagi hatimu Biar terang semua rasa kata dan Gelap pekat lorong jiwa Pergilah jauh mengembara Laksana waktu yang selalu sendiri Menyusuri takdir diri Demi sebuah janji dan seliris asa Cakra, Tak usah ragu berkuasa Bukankah hidup adalah mata air? Yang takkan mati ditikam surya Ia mengada, ketika ada Ia juga kan sirna, Ditelan kabut masa Kita kan cari hakikat Agar lengkap semua harap Agar purna semua gelap Ujung dunia Dari Tanah Merah Menuju Bukit Timah Menyusuri Orchard Mengitari Bugis Menjejak China Town Mengakrabi Woodland Terbentang ceritaku Padamu yang diam-diam mendendam Untuk sebuah mimpi yang tak kunjung datang Sudah kutanyakan pada semua pengendara Juga pejalan kaki dan peseped...

Sidrot

Ronta Hati Kosong mengudara Tembus sekat waktu Cahaya merembesi ruang Dan sepi meraja bumi Tak terkira sudah ronta hati Menusuk janji terucap Mungkin sudah jalannya Jikalau isyarat tlah mampu Menutupi leluka Biar Waktu sembuhkan ia Mimpi belumlah purna Mirip awan berarak Merindu senja langit Agar mau mengantarnya Ke peraduan malam Hujan merinai Membuka bendungan awan Tetesnya menjadi awal Untuk keajaiban yang kan datang Tak perlu risau Biarkan warna langit Selalu biru Sebab matahari Senantiasa hadir Menyanjung musim semi Kidung Filsuf Socrates mengajar gelisah Plato menggubah ide Aristotel membelah materi Averroes menobatkan wali Ghazali menghidukan ilmu Nawawi menyebar fikih Ini aku Beku sendiri Lantunkan kidungku Yang tak tentu Juga jemu tak mampu Mendengar mereka Mengikuti mereka Mendukung mereka Sidrot Muhammad membelah langit Melihat masa depan Dengan mata batin Memilih kebaikan Memohonkan keringanan Burak mengantar Jibril m...

Deram Senja

Deram Senja Deram senja ini mendorongku lena dari sepi sunyi lorong matahari liang-liung makna meliuki padang jiwa dan satire yang kita buat sore ini semakin pahit untuk kita rasa lelap gelap tidurkan mata tapi tidak detak jantungmu yang senantiasa resah berisi mimpi dan luka ; deram senjaku menderu ragu Megatruh O, Indonesiaku dengarlah rindu ini merimba mencari jejak-jejak fana yang kabur diterpa sendu angin selatan kering tanpa rupa garing tanpa rasa dimana mesti kutorehkan? segala harap dan igauan tidurku mengharap kebaikan zaman segera memihak kita menjaya dan  O, Indonesiaku O, Indonesiaku Padang Mantra masih kupeluk erat-erat sebungkus mimpi yang kubeli tadi pagi di gegap riuh boulevard kata sumpah mati terasa mulutku menjadi gagap terasa lidahku menjadi pengap terasa kerongkonganku menjadi cekat tiba-tiba selaksa mantra mengalir lancar mengiris penuh warna meluncuri palung-...

Sebab Sudah

Dan rindu dan rindu menyeretku kaku menuju samsara sebab kepahitan yang kemarin sudah mampus dilahapnya Dan rindu menyuapiku racun madu karena lezat kata cinta tak sanggup lagi menopang pilu Dan rindu membiarkanku biru lemah tak henti memelukiku dengan sebelah tangannya yang gontai menghalau galau dan luka Dan rindu Serta rindu biarkanku abu diremuk redam rasa Ini dunia Malaikat-malaikat berbaris-baris rapalkan puji dan serapah Ini dunia parah meraja sedang titah baginda menjadi sirna Dunia o dunia Malaikat-malaikat berbaris-baris rapalkan puji dan serapah Sedang wajah-wajah bisu senantiasa kalut menunggu maut Puisi Indah Jika kau tulis puisi maka ejalah namaku dengan tinta dan darah yang menggelegak di gelora batinmu sungguh, betapa binal dunia berputar meninggalkan kita yang sendiri mengasing dan terasing menggilas dan tergilas hilang tanpa bekas Jika kau tulis puisi ...

Sore Hujan

Rintik-rintik melirik Tajamkan sukmaku, melayang Lihat, hujan sore ini menelantarkan sesirat Sedang kidung hidup terus menerka-nerka Apa gerangan terjadi? Masihkah sesuluhmu menjadi harap? Sedang derap waktu senantiasa lesu O, ia masih merintiki sore ini Seolah kesumat lampauan tahun menyerukannya Ya.. Sudah lampauan tahun Bumi tengadah menerjang lara Langit merintih keringkan asa Sore yang hujan Sayap-sayap pepohonan kembali merekah Aduhai, biarkan hijaumu menemani mataku Mengeja hari mengais-ngais rindu Sukma mendesah Hati merendah Telingaku menangkap dendang Kepalaku berputar riang (15 September 2009 pukul 16:13, Menyambut hujan perdana di Jombang)