Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Curhat

The Toughest Week

I would genuinely say that this week is one of the hardest. Problems visit like a flood, not giving me some time to breathe. However, I fortunately feel okay, considering it as a process that can make me stronger. First, my boss decided to cut off my salary this morning because of giving the batiks that I should make into office's uniform into my friend from Philippine. I did it because I felt bad to invite him to my pesantren without handing over such souvenir. I thought that I can buy it another batiks which has similar pattern (kawung) at Beringharjo market. However, my boss had different view and the result is that he punished me by cutting my salary as a substitute to price of batiks he provided to me. It is rather funny I guess, but I will not make a mess with that small problem. I should fully accept it as a risk when I hand my office's gift into other. Second, I failed to secure some money to pay rent for the house. Therefore, I turn up into the last choice to ...

Perpindahan dan Kesetiaan

Ckckck, hampir mau 2 tahun blog ini mangkrak. Migrasinya blogger ke google membuatku sulit untuk sign in di blogger, karena pasti akan selalu masuk ke akun gmail-ku, sementara aku sendiri membuat blog ini dari akun yahoo. Sempat membuat 2 blog sekoci, namun tidak tertolong dan sekalian dihapus. Baru beberapa hari kemarin, ketemu teman sesama blogger yang mengatakan bahwa dobel akun di blogger itu bisa saja digabung atau diganti email utamanya. Tertarik dengan info tersebut, aku segera googling terkait hal tersebut, dan voilaaa... akhirnya bisa juga mengganti email utama blog ini dengan akun gmailku, tidak lagi menggunakan akun yahoo. Untuk sekarang ini, aku memang jelas-jelas sudah berpindah email ke gmail, tidak lagi akti menggunakan yahoo. Sebenarnya sih bisa saja tetap mengoperasikan keduanya, namun menurut pikiranku, akan lebih baik jika menggunakan satu email saja. Meninggalkan yang lama demi menggunakan yang baru rasanya sudah menjadi hal yang baisa dan wajar-wajar sa...

Malaysia, the second

Mendarat di KLIA (Kuala Lumpur International Airport), segera saja mata kami semua disambut dengan jejeran pesawat Malaysia Airlines (MAS) dan Airasia, dua pesawat kebanggaan orang Malaysia. Sebelumnya, ketika bersiap-siap mendarat, hanya sawit dan sawit yang menjadi pandangan kami. Memang, Malaysia sedang bergiat memacu penanaman sawit, agar bisa menyaingi Indonesia, sang pemimpin nomer satu produksi sawit sedunia. Menjejakkan kaki di KLIA ini, adalah kesempatan keduaku menjejak negeri jiran ini. Mei atau Juni kemarin, aku sudah sempat masuk ke negara ini, meski hanya di Johor Bahru, negara bagian yang berbatasan langsung dengan Singapura. Artinya, Pasporku pun sudah dua kali di stempel oleh negara serumpun kita ini, hehe. Seperti sudah pernah kutulis, bandara internasional adalah wajah pertama yang akan menyambut anda di suatu negara. Ia bisa jadi cerminan baik dan buruknya pelayanan di sebuah negara. Pada kondisi ini, Indonesia mesti mengakui kualitas pelayanan yang lebih b...

Kegagalan itu Menyedihkan

Orang bilang, “Kegagalan adalah kemenangan yang tertunda”. Itu benar. Akan tetapi, hari-hari ini aku lebih suka mengatakan, “Kegagalan itu benar-benar menyedihkan”. Ngaji  ba’da subuh tadi, aku memutuskan untuk memberi tahu mereka langsung. Bahwa mungkin dalam waktu yang tidak lama, aku tidak akan menjadi guru kelas mereka lagi. Aku akan mundur dari tugas mengajarku di pondok ini. Membiarkan mereka mendapat guru yang lebih cocok buat mereka. Guru yang bisa membuat mereka lebih mudah paham dalam mencerna pelajaran. Guru yang bisa menginspirasi mereka untuk selalu bersemangat menantang kerasnya masa depan. Kata mundur itu terucap, sejak akhir-akhir ini aku menyadari, para santri di kelasku nampak kepayahan dalam mengikuti pelajaran. Nampaknya mereka sulit sekali untuk mencerna dan memahami pelajaran yang aku ajar selama ini. Nampaknya, semangat dan gairah mereka untuk belajar, menghafal dan mengulangi pelajaran di kamar mereka masing-masing masih kurang tinggi. Indikasinya, ...

Berotak Tekad, Berhati Malaikat; a Tribute to Undar Jombang

18 September 1965, tanggal kelahiran Undar Jombang. Sudah begitu tua, setua Gus Mujib, Neng Eyik dan Gus Lukman yang sampai sekarang masih menjadi penguasa-penguasa Undar, asyik mengangkangi “tahta kecil” mereka. Tapi Undar memang istimewa, biarpun dihantam krisis kepemimpinan sejak lama, sampai sekarang masih saja berdiri kukuh. Menantang langit, mengukir jaman. Undar selalu ada, tapi sedihnya, mungkin ia juga pelan-pelan menjadi tiada. Timbul tenggelam, mencari pegangan kesana kemari tanpa pertolongan siapapun. Bukan karena tidak ada yang menolong, tapi karena Undar sendiri yang menolaknya. Di stasiun Purwokerto, jam 6 pagi pada akhir Juli 2004, aku bersama seorang sahabat karib menaiki kereta Logawa jurusan Purwokerto – Surabaya. Tiket seharga 21 ribu selalu kupegang erat-erat. Ini perjalananku pertama kali yang jauh dari Cilacap, kota kelahiranku. Hari itu, aku dan temanku berangkat ke Jombang, untuk nyantri dan kuliah di Universitas Darul Ulum Jombang. Sejak melihat brosur ka...

September

September Kulipat mimpi Kukantongi mantra Lihat, tak ada lagi duka Lihat, rindu kita melanglang buana Ini September Saat kita segera berangkat Memula masa singkat, meski Menyimpan geletar gelap Dan sendu tasbih para malaikat Melukis gemerlap esok Merajut dunia Melibas prahara Tak usah bersedih Sedang kesedihan pun mulai bosan Jadi teman kecil kita Mari sulut semangat Biar berkilat semua karat Dan benderang semua pekat Untuk Bunga Kutulis puisi untukmu Agar terketuk segala pintu Dan terbuka segala rahasia Kita benar-benar berbeda Meski Waktu selalu saja cemburu Dengan diam yang kita bicarakan Dengan cerita yang kita bisukan Untuk Bunga Engkaulah penanda baru Pada setiap jejak yang kubuat Untuk memintal ruang waktu Meski jauh menjadi karib Meski koma menjelma titik Demi Waktu Demi Waktu Manusia selalu berada dalam kerugian Demi Waktu Manusia tempat segala kesalahan Demi Waktu Manusia-lah kekasi...

Ode untuk CRCS 2011

“Zam, alhamdulilah ditanda-tangani sama Pak Lono.. tinggal Bu Fatimah.. besok ke kampus yah, aku dah janjian sama Sam dan Maurisa di kampus besok… terima kasih bantuannya sobat… semoga tesis pean cepat di-acc. Amien.” (Message by Iwan Setiawan, received on September 17, 2013. 18:20:09) Sambil mengetik ini, aku membayangkan dewi kebahagiaan yang sedang ramah kepada sahabat, mentor sekalian salah guru kehidupanku, Bang Iwan Setiawan. Sore ini, beliau sukses mendapat tanda tangan penguji tesisnya, Pak Lono Simatupang, dan besok bersiap-siap menemui pembimbing lainnya. Aku yakin, sama  haqqul yaqin -nya dengan beliau, bahwa besok beliau mudah akan mendapat tanda tangan tersebut. Itu artinya, perjuangan berat untuk kuliah di Pascasarjana CRCS UGM selama dua tahun pun pelan namun pasti akan menemui titik akhirnya, wisuda. Mas Iwan mengikuti jejak Pak Afdilla, Bu Nyai Maurisa, Kang Anam, Mas Wiwit, dan Jeng Palupi, menjadi angkatan 2011 yang tepat waktu menyelesaikan S2-nya selama ...

Ziarah dan Bahasa

Malam sabtu kemarin, pondok kecil kami kedatangan Prof. George Quinn, ahli sastra Jawa dari Australia National University (ANU). Kedatangan beliau, selain untuk diskusi juga beliau punya niat untuk ziarah ke makam Mbah Nuriman, leluhur dan ulama Mlangi yang masih keturunan keraton Jogjakarta. Kesan pertama bertemu, meski sudah berumur 70 tahun lebih, beliau masih saja segar dan bugar. Rahasianya, beliau bilang ada pada latihan rutin Tai Chi setiap pagi selama sekitar 1 jam dan rutinan jalan kaki bersama istrinya. "Rasanya, seperti mendapat asupan tonikum setiap hari", begitu kata Pak George tentang manfaat Tai Chi-nya. Diskusi sederhana pada malam kemarin itu berkisar pada ketertarikan Pak George tentang fenomena ziarah di Indonesia, utamanya di Jawa, Bali dan Makassar. Peningkatan jumlah peziarah yang massif setiap tahun membuat beliau tertarik lebih jauh untuk mendalami apa yang mungkin bisa dipelajari lebih mendalam. Demi meneliti itu, beliau sudah mengunjun...

ASAP

Singapura berasap. Dimana-mana penuh asap. Pagi, siang, sore, malam, sampai pagi lagi, semua diselimuti asap. Muncul manusia-manusia bermasker, demi menghalau asap agar tak masuk paru-paru. Indikasi termutakhir, tingkat ketebalan asap sudah mencapai 400, itu artinya sudah sangat berbahaya untuk kesehatan manusia. Dihimbau untuk anak kecil, orang tua dan yang punya penyakit paru untuk tidak keluar rumah. Jarak pandang yang terjangkau hanya kurang lebih seratus meter, sehabis itu pekat gelap. Rasanya, semua orang jadi galau. Rasanya semua orang marah. Semua merasa, asap telah merampas semuanya. Dan, tentu saja, penyebabnya adalah Indonesia, negara tetangga yang menyebalkan. Singapura meradang. Di situs Yahoo!, orang-orang Singapura menumpahkan kekesalan mereka ketika mengomentari bencana asap ini. Ada yang menulis, "Beli saja Sumatera, Singapura kan uangnya banyak". Ada lagi yang menulis, "Seharusnya, Pemerintah Singapura melaporkan ini ke PBB". Ada yang menyeruk...

Tentang Cinta

Love hurts whether it is right or wrong... (AL) Mungkin, tidak ada yang tahu apa yang ada dalam pikiran Avril Lavigne, penyanyi Kanada yang kesohor itu, ketika dia menulis bait ini. Tapi, banyak orang mengakui, Avril memang tipikal penyanyi yang semau gue, dalam artian positif. Avril dulu adalah antitesis untuk mbak Britney Spears yang gemerlap, mesti unyu, genit dan dalam tanda kutip, sempurna. Avril memberi contoh berbeda, engaku tidak harus sempurna untuk menjadi seseorang. Jadilah dirimu sendiri, jadilah seseorang yang apa adanya tapi juga jujur dalam berkarya. Saya percaya Avril sudah menuliskan kejujuran disitu, di lirik-liriknya. Seyogyanya, begitu juga cara kita membahas cinta. Selama ini, sering harus diakui kalau kita kurang jujur ketika membahas cinta. Sering kita sekadar membahas cinta pada dua sudut yang diametral. Satu sisi mengidealkan cinta dengan kebahagiaan belaka. Cinta adalah kesempurnaan kebahagiaan yang tiada putus-putus. Cinta menjadi sumber inspiras...

Wasiat

Wasiat Pandang hatimu Biar terang semua warna kata dan Gelap pekat nuansa maya Tak kita duga Air kan berpendar biru Rengkuh lembayung langit Semata rindu, katanya Semata restu, teriaknya Semata beku, jeritnya Pandang lagi hatimu Biar terang semua rasa kata dan Gelap pekat lorong jiwa Pergilah jauh mengembara Laksana waktu yang selalu sendiri Menyusuri takdir diri Demi sebuah janji dan seliris asa Cakra, Tak usah ragu berkuasa Bukankah hidup adalah mata air? Yang takkan mati ditikam surya Ia mengada, ketika ada Ia juga kan sirna, Ditelan kabut masa Kita kan cari hakikat Agar lengkap semua harap Agar purna semua gelap Ujung dunia Dari Tanah Merah Menuju Bukit Timah Menyusuri Orchard Mengitari Bugis Menjejak China Town Mengakrabi Woodland Terbentang ceritaku Padamu yang diam-diam mendendam Untuk sebuah mimpi yang tak kunjung datang Sudah kutanyakan pada semua pengendara Juga pejalan kaki dan peseped...