Langsung ke konten utama

Response paper on Friedrich Nietzsche: Human, All Too Human


Nietzsche’s concept succeeds to understand the basic presupposition of human’s revenge, but it fails to understand the basic presupposition of society in Punishment. Nietzsche assumes that human has two presuppositions in revenge: without wishing to harm, and wishing harm. But he fails to understand the basic presupposition of society in punishment because he sees that revenge is same as punishment.
Nietzsche divides the basic presupposition of Revenge to be two kinds: without wishing to harm and wishing to harm. Without wishing to harm is called self-preservation which will be done by human solely as reflect of self defense. It means that every people will give similar action when they get harassment from the others without intension that they do it to harm. They just reply what you have done to them. Opposite of that, Wishing to harm is called restoration, the revenge strongly to reply your harassment. It based on the assumption that people need to restore their honor, their dignity in front of the other. People who get harassment from other people feel un-equal, no confident and weak, so that way they will do as same as they have got, harassment has to be replied by harassment. Nietzsche has succeeded to understand the basic presupposition of human’s revenge.
But when Nietzsche equal revenge as a punishment in society, he fails to understand that individuality and society is different. Based on John Locke’s concept, society is built by contract social. It means that everyone has to admit and follow the rule of society which was created and agreed by them such as norm and constitution. They will get punishment when they cut off those rules. The basic presupposition in society is co-understanding to follow their rules, no revenge in society. Punishment is an impact of our mistakes, nor revenge. Society never revenges themselves, because revenge solely happens as a reaction to the others, nor themselves.
. Nietzsche fails when he sees that Individuality and society is similar because they are totally different. His failure happens when his concept about revenge is equaled to punishment in society. No revenge such as self-preservation and restoration in ourselves moreover our society, it just an impact of our mistake such as cutting of the rules which we made as a contract among each people.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NU sebagai Identitas kultural : Sebuah perspektif pribadi*

Oleh : Azzam Anwar* 31 Januari 2012 nanti, NU akan genap berumur 86 tahun. Sebuah penggalan waktu yang amat sangat lama. Berbagai lintasan sejarah entah itu kelam ataupun terang telah membuat NU semakin kokoh eksistensi dan semangatnya. Tidak dipungkiri, NU telah sedemikian lama mewarnai perjalanan sejarah ini, dari setiap masa ke masa, menjadi fenomena yang nyata hadir dan memberi kontribusi entah negatif entah positif bagi kita semua. Sebagai sebuah fenomena, NU tentu saja amat sangat luas untuk sekedar diteropong dengan tulisan singkat ini, tapi itu semua niscaya untuk dilakukan. Tulisan ini adalah refleksi pribadi seorang anak muda yang berusaha memahami eksistensi dirinya dengan menjadikan NU sebagai cermin besar pusat refleksi itu sendiri. Sebagai sebuah refleksi, tentu saja ia harus dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan jujur dan apa adanya yang muncul dari skema konstruk dan pengalaman pribadi penulis selama bergulat dengan dunia ke-NU-an. NU sebagai sebuah pengalaman pribad...

Sidrot

Ronta Hati Kosong mengudara Tembus sekat waktu Cahaya merembesi ruang Dan sepi meraja bumi Tak terkira sudah ronta hati Menusuk janji terucap Mungkin sudah jalannya Jikalau isyarat tlah mampu Menutupi leluka Biar Waktu sembuhkan ia Mimpi belumlah purna Mirip awan berarak Merindu senja langit Agar mau mengantarnya Ke peraduan malam Hujan merinai Membuka bendungan awan Tetesnya menjadi awal Untuk keajaiban yang kan datang Tak perlu risau Biarkan warna langit Selalu biru Sebab matahari Senantiasa hadir Menyanjung musim semi Kidung Filsuf Socrates mengajar gelisah Plato menggubah ide Aristotel membelah materi Averroes menobatkan wali Ghazali menghidukan ilmu Nawawi menyebar fikih Ini aku Beku sendiri Lantunkan kidungku Yang tak tentu Juga jemu tak mampu Mendengar mereka Mengikuti mereka Mendukung mereka Sidrot Muhammad membelah langit Melihat masa depan Dengan mata batin Memilih kebaikan Memohonkan keringanan Burak mengantar Jibril m...

Kegagalan itu Menyedihkan

Orang bilang, “Kegagalan adalah kemenangan yang tertunda”. Itu benar. Akan tetapi, hari-hari ini aku lebih suka mengatakan, “Kegagalan itu benar-benar menyedihkan”. Ngaji  ba’da subuh tadi, aku memutuskan untuk memberi tahu mereka langsung. Bahwa mungkin dalam waktu yang tidak lama, aku tidak akan menjadi guru kelas mereka lagi. Aku akan mundur dari tugas mengajarku di pondok ini. Membiarkan mereka mendapat guru yang lebih cocok buat mereka. Guru yang bisa membuat mereka lebih mudah paham dalam mencerna pelajaran. Guru yang bisa menginspirasi mereka untuk selalu bersemangat menantang kerasnya masa depan. Kata mundur itu terucap, sejak akhir-akhir ini aku menyadari, para santri di kelasku nampak kepayahan dalam mengikuti pelajaran. Nampaknya mereka sulit sekali untuk mencerna dan memahami pelajaran yang aku ajar selama ini. Nampaknya, semangat dan gairah mereka untuk belajar, menghafal dan mengulangi pelajaran di kamar mereka masing-masing masih kurang tinggi. Indikasinya, ...