Langsung ke konten utama

Response paper to Everyday Religion in Chapter of Embodied practice: Negotiation and Resistance (Academic study of Religion )


McGuire tends to divide the practice of religion between official religion teaching and common people practices. She argues that official religion has limited the meaning and practice of religion merely by their interpretation. This interpretation will make another interpretation as out of the official interpretation. Therefore, many unofficial interpretations will be excluded by their autorotation of official teaching of religion. So, religious and un-religious are defined only by official teaching which is held by religious institution.

Embodied practices as McGuire wrote contain many ambiguous explanations. First, it comes from her explanation about the examples. When gardening is out of the religious acts because it has no relationship with official teaching of religion, it simply limited the meaning of religiosity itself. What is actually the religious action or thing?? Is it only a practice which is held by official institution such as Church or MUI? I do not think so. Every practice is religious. For instance, Islam teaches us that doing worldly things are religious as said by Muhammad in his hadith/speech. So, gardening is also religious practice according to the official teaching of religion, in this case is Islam.

Second, McGuire tends to encounter the religious teaching as a different practice from common people do. This is ambiguous because she does not give the clear difference between both of them. She just writes that all of the practices of people will be denied or allowed by official institution of religion so that why she writes about Negotiation and Resistance. Negotiation occurs when institutional religion allows that practice as religious practice, and there is Resistance when they ban the practice. It will be confusing when we compare it at Tahlilan case between NU and Muhammadiyah. NU allows it and Muhammadiyah bans it. This is not enough to say that Tahlilan is one of the embodied practices because there are many different interpretations in the society itself.

Everyday Religion is an interesting topic to be discussed. As modern type of religious practices, this is not properly just a phenomena purely comes from modern people acts. Questioning between the position of people and religious institution is important for underlining that this term, everyday religion (and also embodied practice) contains with many ambiguous thing itself.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NU sebagai Identitas kultural : Sebuah perspektif pribadi*

Oleh : Azzam Anwar* 31 Januari 2012 nanti, NU akan genap berumur 86 tahun. Sebuah penggalan waktu yang amat sangat lama. Berbagai lintasan sejarah entah itu kelam ataupun terang telah membuat NU semakin kokoh eksistensi dan semangatnya. Tidak dipungkiri, NU telah sedemikian lama mewarnai perjalanan sejarah ini, dari setiap masa ke masa, menjadi fenomena yang nyata hadir dan memberi kontribusi entah negatif entah positif bagi kita semua. Sebagai sebuah fenomena, NU tentu saja amat sangat luas untuk sekedar diteropong dengan tulisan singkat ini, tapi itu semua niscaya untuk dilakukan. Tulisan ini adalah refleksi pribadi seorang anak muda yang berusaha memahami eksistensi dirinya dengan menjadikan NU sebagai cermin besar pusat refleksi itu sendiri. Sebagai sebuah refleksi, tentu saja ia harus dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan jujur dan apa adanya yang muncul dari skema konstruk dan pengalaman pribadi penulis selama bergulat dengan dunia ke-NU-an. NU sebagai sebuah pengalaman pribad...

Sidrot

Ronta Hati Kosong mengudara Tembus sekat waktu Cahaya merembesi ruang Dan sepi meraja bumi Tak terkira sudah ronta hati Menusuk janji terucap Mungkin sudah jalannya Jikalau isyarat tlah mampu Menutupi leluka Biar Waktu sembuhkan ia Mimpi belumlah purna Mirip awan berarak Merindu senja langit Agar mau mengantarnya Ke peraduan malam Hujan merinai Membuka bendungan awan Tetesnya menjadi awal Untuk keajaiban yang kan datang Tak perlu risau Biarkan warna langit Selalu biru Sebab matahari Senantiasa hadir Menyanjung musim semi Kidung Filsuf Socrates mengajar gelisah Plato menggubah ide Aristotel membelah materi Averroes menobatkan wali Ghazali menghidukan ilmu Nawawi menyebar fikih Ini aku Beku sendiri Lantunkan kidungku Yang tak tentu Juga jemu tak mampu Mendengar mereka Mengikuti mereka Mendukung mereka Sidrot Muhammad membelah langit Melihat masa depan Dengan mata batin Memilih kebaikan Memohonkan keringanan Burak mengantar Jibril m...

Kegagalan itu Menyedihkan

Orang bilang, “Kegagalan adalah kemenangan yang tertunda”. Itu benar. Akan tetapi, hari-hari ini aku lebih suka mengatakan, “Kegagalan itu benar-benar menyedihkan”. Ngaji  ba’da subuh tadi, aku memutuskan untuk memberi tahu mereka langsung. Bahwa mungkin dalam waktu yang tidak lama, aku tidak akan menjadi guru kelas mereka lagi. Aku akan mundur dari tugas mengajarku di pondok ini. Membiarkan mereka mendapat guru yang lebih cocok buat mereka. Guru yang bisa membuat mereka lebih mudah paham dalam mencerna pelajaran. Guru yang bisa menginspirasi mereka untuk selalu bersemangat menantang kerasnya masa depan. Kata mundur itu terucap, sejak akhir-akhir ini aku menyadari, para santri di kelasku nampak kepayahan dalam mengikuti pelajaran. Nampaknya mereka sulit sekali untuk mencerna dan memahami pelajaran yang aku ajar selama ini. Nampaknya, semangat dan gairah mereka untuk belajar, menghafal dan mengulangi pelajaran di kamar mereka masing-masing masih kurang tinggi. Indikasinya, ...